Komplikasi dalam persalinan adalah kondisi yang muncul saat proses melahirkan dan berpotensi membahayakan Ibu atau bayi bila tidak ditangani cepat. Yang paling sering dijumpai adalah perdarahan pascapersalinan, hipertensi dalam kehamilan termasuk preeklampsia, distosia bahu, gawat janin, infeksi, serta retensi plasenta. Sebagian besar komplikasi ini bisa dikenali lebih awal dan ditangani bila persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan dengan tenaga terlatih dan prosedur rujukan yang jelas.
Membicarakan komplikasi bukan berarti menakut-nakuti. Justru sebaliknya: Ibu yang tahu tanda bahaya biasanya lebih cepat mencari pertolongan, dan waktu itulah yang paling menentukan hasil akhir. Artikel ini merangkum jenisnya, penyebabnya, dan cara menghadapinya secara medis.
Seberapa Sering Komplikasi Persalinan Terjadi
Data global menunjukkan mengapa topik ini penting. Menurut World Health Organization, sekitar 260.000 perempuan meninggal selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas pada 2023. Di Indonesia, preeklampsia dan perdarahan menyumbang sekitar 37,3 persen dari total kematian ibu, sementara data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 mencatat sekitar 6,5 persen ibu mengalami perdarahan pascapersalinan.
Angka-angka ini tidak berarti setiap persalinan berisiko tinggi. Artinya sederhana: sebagian komplikasi memang muncul tanpa bisa diprediksi dari awal, sehingga kesiapan fasilitas dan kemampuan mengenali tanda bahaya jauh lebih penting dibanding mencoba memprediksi semuanya.
Jenis Komplikasi Persalinan yang Paling Sering
| Komplikasi | Tanda yang muncul | Penanganan awal |
|---|---|---|
| Perdarahan pascapersalinan | Perdarahan banyak setelah bayi lahir, tekanan darah turun, Ibu lemas | Obat pengeras rahim, pemijatan rahim, cairan infus, tindakan sesuai penyebab |
| Hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia | Tekanan darah naik, nyeri kepala, pandangan berkabut, bengkak mendadak | Pemantauan ketat, obat penurun tekanan darah, persalinan bila ada indikasi |
| Distosia bahu | Kepala bayi lahir tetapi bahu tertahan | Manuver khusus oleh tenaga kesehatan, bantuan tim dengan hitungan waktu |
| Gawat janin | Detak jantung bayi tidak normal saat pemantauan, air ketuban bercampur mekonium | Perbaikan posisi, oksigen, tindakan cepat termasuk operasi bila diperlukan |
| Infeksi | Demam, cairan berbau, nyeri hebat setelah persalinan | Antibiotik, pemeriksaan lanjutan |
| Retensi plasenta | Plasenta tidak lahir dalam waktu wajar | Tindakan manual oleh dokter, obat tambahan |
| Robekan jalan lahir | Perdarahan aktif, nyeri pada luka | Penjahitan dengan anestesi lokal, pemantauan perdarahan |
Perdarahan Pascapersalinan
Perdarahan pascapersalinan didefinisikan sebagai perdarahan lebih dari 500 mililiter setelah bayi lahir, atau perdarahan yang memengaruhi kondisi sirkulasi Ibu. Perdarahan primer terjadi dalam 24 jam pertama, sedangkan perdarahan sekunder terjadi antara 24 jam sampai 12 minggu setelah persalinan.
Penyebab tersering adalah rahim yang kurang berkontraksi, sisa plasenta, robekan jalan lahir, dan gangguan pembekuan darah. Karena itu, setelah melahirkan, tenaga kesehatan biasanya memantau kontraksi rahim, perdarahan, dan tanda vital secara berkala, terutama pada jam-jam pertama.
Hipertensi dalam Kehamilan dan Preeklampsia
Preeklampsia adalah bagian dari spektrum hipertensi dalam kehamilan. Secara klinis ditandai tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah usia kehamilan 20 minggu, disertai gejala seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan, mual, sesak napas, penurunan jumlah urin, serta pembengkakan pada wajah, tangan, dan kaki.
Kondisi ini tidak selalu bisa dicegah, tetapi bisa dipantau lewat pemeriksaan tekanan darah dan urin rutin. Ibu dengan risiko lebih tinggi, misalnya memiliki riwayat preeklampsia sebelumnya atau tekanan darah tinggi kronis, biasanya diperiksa lebih sering. Pembahasan awal gejalanya bisa dibaca di kaki bengkak saat hamil dan kapan harus waspada, sedangkan penjelasan lengkapnya ada di ulasan preeklampsia atau keracunan kehamilan.
Gangguan pada Plasenta
Dua kondisi plasenta yang sering dibahas dalam konteks komplikasi persalinan adalah plasenta previa, saat plasenta menutupi jalan lahir, dan solusio plasenta, saat plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya. Keduanya bisa menimbulkan perdarahan dan biasanya memerlukan penanganan di rumah sakit.
Bila Ibu memiliki salah satu kondisi ini, jalur persalinan kemungkinan besar tidak pervaginam, dan itu ditentukan demi keselamatan. Penjelasannya ada di plasenta previa dan solusio plasenta.
Infeksi dan Ketuban Pecah Dini
Ketuban yang pecah sebelum waktunya meningkatkan risiko infeksi, sehingga waktu menjadi faktor penting. Bila air ketuban sudah pecah, Ibu perlu segera memeriksakan diri meski belum ada kontraksi. Langkah yang perlu dilakukan dijelaskan pada ciri ciri ketuban pecah dan apa yang harus segera dilakukan.
Faktor Risiko yang Bisa Dikenali Sejak Kehamilan
- Riwayat komplikasi pada kehamilan atau persalinan sebelumnya
- Tekanan darah tinggi, diabetes, atau penyakit jantung
- Kehamilan kembar dan kehamilan dengan kelainan plasenta
- Pertumbuhan janin yang tidak sesuai usia kehamilan
- Usia Ibu yang sangat muda atau di atas 35 tahun pada kehamilan pertama
- Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau terlalu jauh
- Kondisi sosial seperti akses layanan kesehatan yang sulit dijangkau
Faktor risiko bukan ramalan. Ibu dengan faktor risiko bisa melahirkan normal, dan Ibu tanpa faktor risiko tetap bisa mengalami komplikasi. Fungsi penilaian ini adalah menentukan seberapa ketat pemantauan dan di mana sebaiknya Ibu melahirkan.
Kalau Melahirkan di Fasilitas Kesehatan, Apa Bedanya?
Perbedaan utamanya ada pada kecepatan. Komplikasi seperti perdarahan hebat, distosia bahu, atau gawat janin menuntut tindakan dalam hitungan menit. Fasilitas kesehatan memiliki obat, alat, dan tenaga yang bisa langsung bertindak, serta jalur rujukan bila kondisi memerlukan kamar operasi atau perawatan intensif.
Karena itu, WHO menganjurkan persalinan ditolong tenaga terlatih di fasilitas kesehatan, bukan di rumah, untuk semua ibu. Ini juga alasan layanan seperti PONED di puskesmas dan rumah sakit rujukan disiapkan di berbagai daerah.
Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Ditunggu
- Perdarahan dari jalan lahir, bukan hanya lendir bercampur darah tipis
- Nyeri kepala hebat, pandangan berkabut, atau kejang
- Nyeri menetap di perut bagian atas atau nyeri dada
- Sesak napas tanpa sebab jelas
- Pembengkakan mendadak pada wajah dan tangan
- Demam tinggi dan cairan berbau setelah melahirkan
- Gerakan bayi berkurang dari kebiasaannya
- Detak jantung bayi yang tidak normal saat pemantauan
Bila salah satu muncul, jangan menunggu jadwal kontrol. Hubungi fasilitas kesehatan atau datang langsung, karena penanganan lebih awal membuat selisih yang besar pada hasil akhir.
Bagaimana Komplikasi Dicegah dan Dihadapi
- Menjalani pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal, termasuk pemeriksaan tekanan darah dan urin
- Mengenali tanda bahaya dan segera mencari pertolongan, tanpa menunggu esok hari
- Merencanakan transportasi dan tempat persalinan sejak trimester ketiga
- Persalinan di fasilitas kesehatan dengan prosedur rujukan yang jelas
- Bersedia memberi kesempatan tindakan medis bila memang diperlukan
Yang perlu ditegaskan, komplikasi bukan tanda seseorang lemah atau salah menjaga kehamilan. Sebagian kondisi memang terjadi secara acak, dan yang membedakan hasil adalah kecepatan penanganan.
Komplikasi dalam Persalinan dan Rencana Gentle Birth
Pendekatan gentle birth dirancang untuk kehamilan risiko rendah dan tidak menolak intervensi medis. Bila muncul kondisi yang memerlukan tindakan seperti percepatan persalinan, pemantauan ketat, atau operasi caesar, keputusan medis tetap diambil oleh dokter. Bila Ibu memilih menunggu, pembahasan tentang induksi saat usia kehamilan 41 minggu bisa menjadi pertimbangan tambahan.
Di Tembuni Birth Center, Kemang, kami melakukan pemantauan kondisi Ibu dan bayi selama persalinan, dan bila ada kondisi yang memerlukan penanganan yang tidak tersedia di klinik, kami merujuk ke rumah sakit mitra. Kami memilih menyampaikan batasan ini secara terbuka, karena keputusan yang jujur jauh lebih aman dibanding janji yang tidak bisa dipenuhi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah komplikasi persalinan bisa dicegah?
Sebagian bisa, terutama yang berkaitan dengan pemantauan rutin dan faktor risiko seperti tekanan darah. Namun ada komplikasi yang muncul mendadak tanpa faktor risiko sebelumnya. Karena itu, yang paling bisa Ibu lakukan adalah menjalani pemeriksaan teratur dan bersalin di fasilitas kesehatan.
Apakah persalinan normal selalu lebih aman dibanding operasi caesar?
Tidak bisa dinyatakan secara umum. Untuk kehamilan risiko rendah, persalinan pervaginam biasanya lebih sederhana pemulihannya. Namun pada kondisi seperti plasenta previa atau gawat janin, operasi caesar justru lebih aman. Keselamatan Ibu dan bayi yang menentukan pilihan.
Kalau Ibu sudah melahirkan normal sebelumnya, apakah tetap perlu fasilitas dengan rujukan?
Ya. Persalinan kedua dan seterusnya umumnya lebih cepat, tetapi komplikasi tetap bisa terjadi, misalnya perdarahan atau distosia bahu. Fasilitas dengan prosedur rujukan tetap disarankan, meski pemulihannya biasanya lebih ringan.
Apakah pendampingan pendamping dan suami membantu menghadapi komplikasi?
Dukungan berkelanjutan membantu Ibu tetap tenang dan lebih mudah mengikuti arahan tenaga kesehatan ketika kondisi berubah. Namun perlu dipahami, pendamping bukan tenaga medis, sehingga keputusan klinis tetap diambil oleh dokter atau bidan.
Seberapa lama pemantauan setelah melahirkan berlangsung?
Pemantauan ketat biasanya dilakukan pada jam-jam pertama setelah melahirkan, terutama dua jam pertama, saat risiko perdarahan paling tinggi. Setelahnya, pemeriksaan berkala tetap dilakukan sampai Ibu pulang dan saat kontrol nifas.
Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi medis. Semua keputusan penanganan pada kondisi darurat dibuat oleh dokter atau bidan berdasarkan kondisi Ibu dan bayi.
Ingin berkonsultasi soal risiko kehamilan atau rencana persalinan? Hubungi tim Tembuni lewat WhatsApp atau datang ke Jl. Kemang Timur VIII No. L13, Jakarta Selatan.
Referensi
- World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan.
- World Health Organization. WHO recommendations: intrapartum care for a positive childbirth experience.
- Jurnal Kesehatan. Pemetaan komplikasi preeklampsia dan perdarahan pada ibu hamil.





