Persalinan normal, gentle birth, dan pro normal tetap bisa menjadi harapan seorang ibu meskipun sebelumnya pernah melahirkan melalui operasi caesar (SC). Jadi, kalau sekarang sedang hamil lagi setelah pernah SC, wajar banget kalau muncul pertanyaan, “Memangnya masih bisa lahir normal?” atau bahkan, “Kalau sudah pernah SC, bukannya harus SC lagi?”
Jawabannya: pada sebagian ibu, persalinan normal setelah SC memang bisa menjadi pilihan. Istilah medisnya adalah VBAC (Vaginal Birth After Cesarean), yaitu melahirkan melalui vagina setelah sebelumnya pernah menjalani operasi caesar. Namun, VBAC bukan berarti semua ibu yang pernah SC otomatis bisa atau pasti akan melahirkan normal. Ada beberapa kondisi yang perlu diperiksa terlebih dahulu untuk menentukan apakah mencoba persalinan pervaginam aman untuk ibu dan bayi.
Jadi, kalau pernah SC, jangan langsung menyimpulkan, “Berarti anak berikutnya pasti SC.” Tetapi jangan juga langsung berpikir, “Aku pasti bisa VBAC.” Yang paling penting adalah menilai kondisi ibu secara individual bersama dokter kandungan.
1. Pernah SC bukan berarti pintu persalinan normal otomatis tertutup
Ini adalah hal pertama yang perlu diketahui.
Operasi caesar sebelumnya memang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan rencana persalinan berikutnya, tetapi bukan berarti setiap ibu yang pernah SC harus selalu menjalani SC lagi.
ACOG menjelaskan bahwa setelah pernah menjalani caesar, sebagian ibu dapat mempertimbangkan persalinan vaginal pada kehamilan berikutnya. Percobaan persalinan setelah caesar dikenal sebagai TOLAC (Trial of Labor After Cesarean). Jika berhasil, ibu dapat mengalami VBAC. Jika tidak berhasil, persalinan dapat berakhir dengan operasi caesar kembali.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar:
“Pernah SC atau belum?”
Tetapi:
“Dengan riwayat SC dan kondisi kehamilan saya sekarang, apakah saya merupakan kandidat yang sesuai untuk mencoba persalinan normal?”
2. Kenapa alasan SC sebelumnya perlu diketahui?
Ini salah satu informasi yang sangat penting ketika ibu ingin mempertimbangkan VBAC.
Misalnya, pada kehamilan sebelumnya bayi berada dalam posisi sungsang sehingga dilakukan SC dan ibu tidak sempat mengalami proses persalinan. Pada kehamilan berikutnya, kondisi bayi bisa saja berbeda.
Sebaliknya, jika SC sebelumnya dilakukan karena proses persalinan yang berhenti berkembang atau ada kondisi tertentu yang berpotensi berulang, dokter perlu mempertimbangkannya dalam menilai peluang dan keamanan persalinan berikutnya.
ACOG menyebutkan bahwa alasan dilakukannya SC sebelumnya merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan ketika menilai apakah seseorang dapat mencoba VBAC.
Karena itu, jangan lupa membawa atau menyampaikan riwayat persalinan sebelumnya ketika konsultasi.
Kalau masih menyimpan resume medis atau catatan operasi SC sebelumnya, bawa saat pemeriksaan. Informasi tersebut dapat membantu dokter memahami kondisi persalinan sebelumnya dengan lebih lengkap.
3. Jenis sayatan pada rahim juga penting
Nah, ini yang sering tidak diketahui ibu.
Bekas luka yang terlihat di kulit perut tidak selalu menggambarkan jenis sayatan yang dibuat pada rahim. Padahal, jenis sayatan pada rahim dapat memengaruhi keamanan ketika mempertimbangkan persalinan berikutnya.
Sayatan transversal rendah pada rahim merupakan jenis yang paling umum dan memiliki risiko ruptur rahim yang lebih rendah dibandingkan sayatan vertikal tinggi atau classical incision.
Karena itu, dokter perlu mengetahui jenis sayatan pada rahim saat operasi sebelumnya, bukan hanya melihat bekas luka di kulit.
Kalau ibu tidak tahu jenis sayatannya, tidak perlu menebak-nebak sendiri. Dokter dapat membantu menilai melalui catatan operasi atau rekam medis sebelumnya.
4. Apakah hanya karena pernah SC satu kali berarti pasti bisa VBAC?
Tidak juga.
Riwayat satu kali SC memang dapat membuat VBAC menjadi pilihan bagi sebagian ibu, tetapi keputusan tetap harus dibuat berdasarkan kondisi keseluruhan.
Dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:
• alasan SC sebelumnya,
• jenis sayatan pada rahim,
• apakah ibu pernah melahirkan normal sebelumnya,
• kondisi kehamilan saat ini,
• posisi dan kondisi bayi,
• kondisi plasenta,
• adanya penyakit atau komplikasi tertentu,
• serta bagaimana proses persalinan berlangsung jika ibu mulai mengalami kontraksi.
RCOG menyebutkan bahwa pada perempuan dengan satu kali SC dan kehamilan berikutnya yang berjalan tanpa komplikasi, sekitar 3 dari 4 yang mengalami persalinan spontan dapat melahirkan secara vaginal. Angka ini adalah gambaran populasi, bukan kepastian untuk setiap individu.
Artinya, peluang memang ada, tetapi tetap perlu dinilai secara personal.
5. Pernah melahirkan normal sebelumnya bisa menjadi salah satu faktor yang mendukung
Kalau seorang ibu pernah melahirkan normal sebelum atau setelah operasi caesar, hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan peluang keberhasilan VBAC.
RCOG menyebutkan bahwa perempuan yang pernah mengalami persalinan vaginal, terutama VBAC sebelumnya, memiliki peluang keberhasilan VBAC yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang belum pernah melahirkan vaginal.
Tetapi sekali lagi, ini bukan berarti:
“Pernah normal = pasti normal lagi.”
Setiap kehamilan memiliki kondisi yang berbeda.
Karena itu, riwayat persalinan sebelumnya merupakan salah satu informasi, bukan satu-satunya penentu.
6. VBAC bukan berarti melahirkan tanpa risiko
Ini bagian yang juga penting untuk dipahami.
Memilih untuk mencoba persalinan vaginal setelah SC bukan berarti risikonya sama persis dengan ibu yang belum pernah menjalani operasi caesar.
Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah ruptur uteri, yaitu terbukanya kembali bekas luka pada rahim. Kondisi ini jarang terjadi, tetapi dapat menjadi komplikasi serius sehingga ibu yang menjalani TOLAC perlu mendapatkan pemantauan yang sesuai dan ditangani di fasilitas yang mampu melakukan tindakan caesar segera bila diperlukan.
Karena itu, konsep pro normal bukan berarti memaksakan normal dengan mengabaikan risiko.
Justru sebaliknya.
Provider yang mendukung VBAC perlu mampu menjelaskan manfaat, risiko, peluang keberhasilan, serta kemungkinan perubahan rencana persalinan kepada ibu.
Dengan begitu, ibu dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang jelas.
7. Jadi, apa yang harus ibu lakukan kalau ingin VBAC?
Jangan menunggu sampai mendekati hari persalinan.
Mulailah konsultasi sejak masa kehamilan.
Ceritakan kepada dokter bahwa ibu pernah menjalani SC dan ingin mengetahui apakah pada kehamilan kali ini memungkinkan untuk mencoba persalinan normal.
Dokter kemudian dapat mengevaluasi riwayat operasi sebelumnya dan kondisi kehamilan saat ini.
Beberapa pertanyaan yang bisa ibu bawa saat konsultasi:
“Dok, apa alasan saya dulu harus SC?”
“Jenis sayatan pada rahim saya dulu seperti apa?”
“Apakah kondisi kehamilan saya sekarang memungkinkan mencoba VBAC?”
“Apa faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan peluang keberhasilan saya?”
“Kalau saya mencoba persalinan normal, bagaimana pemantauannya?”
“Kalau ternyata prosesnya tidak berjalan sesuai harapan, apa rencana berikutnya?”
Pertanyaan seperti ini jauh lebih bermanfaat daripada sekadar mencari tempat yang menjanjikan “pasti bisa normal.”
8. Pilih provider yang benar-benar mendukung proses, bukan sekadar memberikan label “pro normal”
Kalau ibu ingin mencoba VBAC, pemilihan provider menjadi sangat penting.
Ibu membutuhkan dokter kandungan yang mau mendengarkan riwayat persalinan sebelumnya, mengevaluasi kondisi saat ini, menjelaskan pilihan secara terbuka, dan mendampingi proses pengambilan keputusan.
Selain dokter kandungan, support system juga penting.
Ada bidan yang dapat mendampingi proses persalinan, dokter anak untuk kebutuhan bayi setelah lahir, serta dukungan laktasi untuk membantu ibu memasuki fase menyusui.
Jadi, jangan hanya bertanya:
“Dokternya pro normal nggak?”
Tanyakan juga:
“Kalau saya mencoba VBAC, support system-nya bagaimana?”
Karena persalinan bukan hanya tentang siapa yang membantu ibu ketika kontraksi sudah datang. Persiapan, edukasi, pemantauan, dan dukungan setelah bayi lahir juga merupakan bagian dari perjalanan tersebut.
9. Lingkungan bersalin juga boleh menjadi pertimbangan
Bagi ibu yang ingin mencoba VBAC, suasana tempat bersalin mungkin terasa semakin penting karena ibu sudah memiliki pengalaman persalinan sebelumnya.
Lingkungan yang terasa tenang, nyaman, privat, dan suportif dapat membantu menciptakan pengalaman persalinan yang lebih positif.
Konsep gentle birth juga tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap pemantauan medis. Justru, pendekatan gentle birth yang baik tetap perlu berjalan berdampingan dengan pelayanan medis yang aman.
Karena itu, suasana homey seperti birth center dapat menjadi salah satu pertimbangan kenyamanan ibu, tetapi tetap harus disertai tenaga kesehatan dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan persalinannya.
Yang dicari bukan sekadar:
“Tempatnya nyaman.”
Tetapi:
“Tempatnya nyaman, tenaga kesehatannya mendukung, dan kebutuhan medis saya tetap aman.”
10. Jangan lupa memikirkan ibu dan bayi setelah persalinan
Setelah berhasil melahirkan normal, perjalanan belum selesai.
Ibu akan masuk ke fase menyusui dan beradaptasi dengan bayi. Pada fase ini, dukungan yang tepat dapat sangat membantu.
Karena itu, fasilitas yang memiliki rooming in dapat menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan. Dengan rooming in, ibu dan bayi tetap bersama setelah persalinan sehingga ibu dapat lebih mudah mengenali kebutuhan bayi dan memulai proses menyusui.
Dukungan dokter anak dan tenaga laktasi juga menjadi penting, terutama bagi ibu yang mungkin masih beradaptasi setelah melalui perjalanan persalinan yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.
Jadi, ketika memilih tempat untuk VBAC, jangan hanya bertanya:
“Bisa bantu aku lahir normal nggak?”
Tapi juga:
“Setelah bayiku lahir, siapa yang akan mendampingi aku?”
Jadi, bisa gak melahirkan normal setelah SC?
Bisa pada sebagian ibu, tetapi tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan fakta bahwa ibu pernah atau tidak pernah SC.
VBAC merupakan pilihan yang dapat dipertimbangkan pada ibu tertentu setelah evaluasi menyeluruh. Riwayat SC sebelumnya, jenis sayatan pada rahim, alasan operasi sebelumnya, riwayat persalinan vaginal, kondisi kehamilan sekarang, serta kesiapan fasilitas dan tenaga kesehatan semuanya perlu diperhatikan.
Dan yang paling penting, jangan merasa bahwa SC sebelumnya membuat tubuh ibu “gagal” melahirkan normal.
SC bisa dilakukan karena berbagai alasan medis. Yang terpenting untuk kehamilan berikutnya adalah memahami kondisi saat ini dan mencari tahu apakah persalinan vaginal merupakan pilihan yang aman untuk ibu dan bayi.
Kalau memang memungkinkan, ibu dapat mempersiapkannya dengan baik. Kalau ternyata dokter menemukan alasan yang membuat persalinan normal tidak aman, keputusan untuk menjalani SC kembali juga bukan berarti ibu gagal.
Tujuan akhirnya tetap sama: ibu dan bayi mendapatkan proses persalinan yang aman.
Mempersiapkan VBAC di Tembuni Birth Center
Bagi ibu yang pernah SC dan ingin mengetahui apakah masih memiliki kesempatan untuk melahirkan normal, langkah pertama bukan mencari janji “pasti VBAC”, tetapi melakukan konsultasi dan evaluasi bersama dokter kandungan.
Di Tembuni Birth Center, ibu dapat berkonsultasi dengan dokter Obgyn untuk membahas kondisi kehamilan dan riwayat persalinan sebelumnya. Tembuni mengusung pendekatan pro normal dan gentle birth, dengan support system yang mencakup dokter Obgyn, bidan, dokter anak, serta dukungan laktasi. Tersedia pula poli Obgyn, poli anak, dan poli laktasi, sehingga kebutuhan ibu dan bayi dapat didukung secara menyeluruh.
Untuk pengalaman bersalin, Tembuni memiliki ruang bersalin dengan suasana homey dan nyaman, tidak terasa seperti suasana rumah sakit yang bagi sebagian ibu dapat terasa lebih menegangkan. Setelah bayi lahir, tersedia rooming in, sehingga ibu dan bayi dapat tetap bersama dan proses menyusui bisa mendapatkan dukungan sejak awal.
Tembuni juga menyediakan berbagai kelas edukasi untuk membantu ibu mempersiapkan kehamilan, persalinan, dan menyusui.
Berdasarkan data internal Tembuni, sejak 2020 sudah lebih dari 3.000 ibu hamil yang berhasil melahirkan normal di Tembuni, dengan angka persalinan normal sebesar 94%.
Jadi, kalau setelah pernah SC ibu masih menyimpan harapan untuk merasakan persalinan normal, jangan langsung menganggap jawabannya “tidak bisa”. Konsultasikan dulu kondisi ibu secara menyeluruh. Karena mungkin yang ibu butuhkan bukan janji bahwa “pasti normal”, melainkan provider yang mau mengevaluasi, menjelaskan pilihan dengan jujur, mendukung proses yang aman, dan tetap siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.
Daftar Pustaka
1. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Vaginal Birth After Cesarean Delivery (VBAC).
2. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Deciding Between a VBAC and a Repeat Cesarean: 7 Questions to Ask.
3. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Vaginal Birth After Cesarean Delivery. Practice Bulletin No. 205.
4. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Birth after Previous Caesarean Birth. Green-top Guideline No. 45.
5. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Birth after Previous Caesarean – Patient Information.





